Meluruskan Berbagai Kaidah Yang Sering Disalah Gunakan


Maslahat Tidak Dapat Dijadikan Sebagai Alasan (dalil) Syar’i.

Maslahat identik dengan manfaat (utility), yaitu kemampuan yang terdapat pada benda (barang) atau perbuatan (jasa) untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Dalam Islam maslahat bukan menjadi sumber hukum atau alasan baik atau buruknya sesuatu. Jika dikaitkan dengan hukum syara’ maka didalam Islam telah dirumuskan tentang maslahat ini dalam sebuah kaidah: “Haitsumma yakunu asy-syar’u takunu al-maslahah” (di mana ada penerapan syari’ah, maka disana ada maslahat). Bukan sebaliknya: “aynama wujidat al-maslahah fa tsamma syar’ullah”. (dimana ada maslahat maka disana ada hukum Allah). (Muh. Muhammad Ismail, Al-Fikr al-Islami, 1958).

Jadi meskipun sesuatu memiliki maslahat (manfaat) jika Allah telah mengharamkannya, maka hal tersebut tidak dapat berubah menjadi halal atau mubah hanya karena adanya manfaat yang terdapat padanya. Misalnya, Khamr yang sering dimanfaatkan dibidang kedokteran dan kesehatan, seperti dapat menghasilkan kalori, dimana setiap 1 gram etanol diketahui menghasilkan 7 kalori atau sering digunakan untuk mensterilkan peralatan. Contoh lain dalam kehidupan masyarakat misalnya, lokalisasi perjudian atau prostitusi, juga bunga Bank tetap haram meski dapat mendatangkan pendapatan atau keuntungan (manfaat) bagi negara atau mereka yang melakukannya. Mengapa? Karena maslahat sama sekali bukanlah dalil syar’i yang menjadi dasar untuk menetapkan sesuatu. Maslahat hanyalah dampak atau efek yang muncul setelah penerapan hukum syara’, bukan dasar penetapan hukum.

Kebaikan Dan Keburukan, Terpuji Dan Tercela Itu Berdasarkan Apa Yang Dinyatakan Syariat.

Terkait dengan maslahat, maka manusia sering menganggap sesuatu itu baik dan terpuji karena adanya banyak manfaat pada perbuatan atau suatu benda. Mengenai hal ini Islam memiliki prinsip :

[أَنَّ الْخَيْرَ مَا أَرَضَ اللهُ وَ أَنَّ الشَّرَّ مَا أَسْخَطَهُ]

Sesungguhnya kebaikan itu adalah sesuatu yang diridhai Allah, dan keburukan itu adalah sesuatu yang dimurkai Allah

“Anna Al khoira maa aradha Allahu wa anna asy syarra maa askhathahu” (Sesungguhnya kebaikan itu adalah sesuatu yang diridhoi Allah dan keburukan itu adalah sesuatu yang dimurkai Allah) dan “Anna al-hasana maa hasannahu asy-syar’u wa anna al-qobiyha maa qobbihahu asy-syar’u” (Sesungguhnya perbuatan terpuji itu adalah apa yang di puji oleh Allah dan bahwasanya perbuatan tercela itu adalah apa yang dicela oleh Allah). (Megenal Hizbut Tahrir, 1992; hal 54).

Contoh penerapan kaidah ini dalam kehidupan adalah meski sebagian besar masyarakat memandang poligami selalu dikaitkan dengan sesuatu yang buruk dan tercela, namun karena Allah telah meridhoinya maka perbuatan tersebut jika di niatkan karena Allah maka menjadi perbuatan baik dan terpuji meski seluruh masyarakat tidak menyukainya.

Kondisi Darurat Membolehkan Yang Haram

“Al-dharurat tubiih al-mahzhuurat” (Kondisi darurat membolehkan yang diharamkan) (Abdul Hamid Hakim, As-Sulam: hal 59).

Kaidah ini biasanya dipahami secara sederhana, sehingga dengan alasan darurat, maka seseorang dengan mudah membolehkan yang haram. Harus dipahami bahwa, definisi darurat seperti apa yang membolehkan yang haram di dalam Islam? Syaikh Taqiyuddin an Nabhani menjelaskan bahwa darurat yang dimaksud oleh syara’ adalah keterpaksaan yang sangat mendesak yang dikhawatirkan menimbulkan kebinasaan/kematian. (al idhthirar al mulji’ alladzi yukhsya minhu al-halak). Jadi yang dimaksud dalam kaidah ini adalah untuk memelihara jiwa. (Taqiyuddin an Nabhani. Asy Syakhshiyah Al Islamiyah Juz III, hal. 477).

Jika seseorang sudah tidak bisa mendapatkan apa-apa lagi untuk menyambung hidupnya kecuali ia mendapati daging babi dan khamr, dan ketika ia tidak memakan atau meminumnya dapat mengakibatkan kebinasaan/kematian maka ia boleh memakan daging babi dan meminum khamr tersebut sebatas kebutuhannya menyambung hidupnya saja. Inilah yang dimaksud darurat sebagaimana kaidah tersebut yang didasarkan pada QS Al-Baqarah ayat 173 dan QS AL-Maidah ayat 3.

Jadi, tidak benar fatwa yang membolehkan mengambil atau memanfaatkan bunga dari bank konvensional, dengan alasan darurat karena belum adanya bank syariah di suatu tempat. Tidak benar pula “fatwa” yang mewajibkan ikut Pemilu dengan alasan ‘darurat’ karena khawatir kekuasaan legislatif atau eksekutif akan dikuasai oleh orang kafir atau sekular yang tidak memihak kepada umat Islam.

Jika Berkumpul Dua Bahaya, Maka Dipilih yang Lebih Ringan

Prinsip ini disandarkan pada kaidah: “Idza ta’aradha mafsadatani ru’iya a’zhamuha dhararan birtikabi akhaffihima” (Jika berkumpul dua madharat (bahaya), maka dipilih yang lebih ringan madharatnya). (Abdul Hamid Hakim, 1927, Mabadi` Awaliyah fi Ushul Al Fiqh wa Al Qawa’id Al Fiqhiyah, halaman 35). Kaidah ini kemudian lebih dikenal dengan kaidah: akhaffu ad-dhararayn (dua di antara kemadaratan yang lebih ringan), atau ahwan as-syarrayn (dua di antara keburukan yang lebih rendah).

Prinsip ini diterapkan pada seseorang yang dihadapkan kepada pilihan atas dua bahaya yang tidak sanggup lagi untuk dihindari kecuali ia mengambil salah satunya. Misalnya seseorang yang sedang sakit maag yang akut namun tetap berpuasa di bulan ramadahan, sedangkan menurut dugaan kuat oleh dokter jika ia tidak membatalkan puasa maka akan membahayakan keselamatannya. Memang, hukum berbuka puasa pada bulan ramadhan adalah haram, tetapi bertambah akutnya penyakit dan dapat mengakibakan kematian karena faktor kesengajaan juga haram, bahkan lebih diharamkan dibandingkan dengan berbuka pada bulan Ramadhan. Sebab, bertambah parahnya penyakit yang dapat mengakibatkan kematian adalah lebih madharat dan lebih berbahaya atas dirinya.

Lain halnya, ketika seseorang tidak dalam konteks untuk memilih salah satu di antara kedua dharar yang ada, misalnya, lokalisasi pelacuran yang jelas-jelas dharar itu dihukumi jâiz (tidak haram) dengan alasan untuk menghindari dharar yang lebih besar, yaitu berkembangnya transaksi seks liar. Ini merupakan contoh penggunaan kaidah akhaffu ad-dhararyn yang keliru. Begitu juga dengan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden dalam sistem demokrasi kufur. Kaum muslim tidak dalam kondisi yang tidak dapat menghindari dari dharar atau keburukan yaitu memilih diantara yang buruk. Akan tetapi kaum muslim masih memiliki alternatif yaitu memperjuangkan terwujudnya pemimpin dan sistem yang sesuai syariah. Jadi, ada pilihan lain yang syar’i bahkan wajib yaitu tidak memilih demi tidak langgengnya sistem kufur yang ada. Sebab, dharar (memilih capres dan cawapres) tersebut merupakan pelanggaran hukum syariat yang bisa dihindari, dan tidak mengharuskan masyarakat untuk memilih salah satu di antara yang ada.

Oleh karena itu, kaum muslim tidak boleh sembarangan dalam menggunakan kaidah ini  dan perlu memperhatikan tiga perkara berikut dalam penerapannya:

  1. Jika masing-masing dharar tersebut kedudukannya sama—sama-sama berbahaya dan membahayakan, sedangkan masing-masing tidak bisa dihindari (baik dengan meninggalkan perintah ataupun melaksanakan larangan)—maka yang harus dipilih adalah mana di antara kedua dharar tersebut yang paling ringan. Di sinilah, kaidah akhaffu ad-dhararayn tersebut berlaku.
  2. Jika masing-masing dharar tersebut kedudukannya sama—sama-sama berbahaya dan membahayakan, sedangkan masing-masing bisa dihindari (baik dengan melaksanakan perintah ataupun meninggalkan larangan)—maka tidak diperbolehkan memilih mana di antara kedua dharar tersebut yang paling ringan. Dalam hal ini, kaidah akhaffu ad-dhararayn tersebut jelas tidak berlaku.
  3. Ketika seseorang tidak dalam konteks untuk memilih salah satu di antara kedua dharar tersebut, maka dalam konteks seperti ini juga tidak ada pilihan; mana di antara keduanya yang paling ringan dharar-nya. Dalam hal ini, kaidah akhaffu ad-dhararayn tersebut jelas tidak bisa dipergunakan.

Kandungan QS. Adz Dzariyat ayat 56

Surat Adz dzariyat ayat 56 mengandung makna bahwa semua makhluk Allah, termasuk jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT agar mereka mau mengabdikan diri, taat, tunduk, serta menyembah hanya kepada Allah SWT. Jadi selain fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi (fungsi horizontal), manusia juga mempunya fungsi sebagai hamba yaitu menyembah penciptanya (fungsi vertikal), dalam hal ini adalah menyembah Allah karena sesungguhnya Allah lah yang menciptakan semua alam semesta ini.

Seperti diutarakan pada surat Al Mukminun ayat 12-14 bahwa Allah SWT yang menciptakan manusia dari saripati tanah yang terkandung dalam tetesan air yang hina, yaitu air mani, oleh karenanya merupakan suatu keharusan bagi manusia untuk menyembah penciptanya, yang telah menjadikan manusia sebagai makhluk mulia diantara makhluk lainnya.

Penjelasan QS. Adz Dzariyat ayat 56

Manusia diciptakan oleh Allah SWT agar menyembah kepadanya. Kata menyembah sebagai terjemahan dari lafal ‘abida-ya’budu-‘ibadatun (taat, tunduk, patuh). Beribadah berarti menyadari dan mengaku bahwa manusia merupakan hamba Allah yang harus tunduk mengikuti kehendaknya, baik secara sukarela maupun terpaksa.

  • Ibadah muhdah (murni), yaitu ibadah yang telah ditentukan waktunya, tata caranya, dan syarat-syarat pelaksanaannya oleh nas, baik Al Qur’an maupun hadits yang tidak boleh diubah, ditambah atau dikurangi. Misalnya shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya.
  • Ibadah ‘ammah (umum), yaitu pengabdian yang dilakuakn oleh manusia yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas dan kegiatan hidup yang dilaksanakan dalam konteks mencari keridhaan Allah SWT

Jadi, setiap insan tujuan hidupnya adalah untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, terjauhkan dari kegelisahan dan kesengsaraan bathin. Sedangkan diakhirat kelak, kita akan memperoleh imbalan surga dan dimasukkan dalam kelompok hamba-hamba Allah SWT yang istimewa. Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi :

Artinya: “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhainya. Maka masuklah dalam jamaah hamba-hambaku. Dan masuklah ke dalam surgaku.” (QS Al Fajr : 27-30)

Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah. Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepadanya. Islam telah memberi petunjuk kepada manusia tentang tata cara beribadah kepada Allah. Apa-apa yang dilakukan manusia sejak bangun tidur samapai akan tidur harus disesuaikan dengan ajaran Islam.

Jin dan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mempunayi tugas pokok di muka bumi, yaitu untuk mengabdi kepada Allah SWT. Pengabdian yang dikehendaki oleh Allah SWT adlah bertauhid kepadanya, yakni bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah. Jin dan manusia wajib mengesakan Allah dalam segala situasi dan kondisi, baik dalam keadaan suka maupun duka.

Petunjuk Allah hanya akan diberikan kepada manusia yang taat dan patuh kepada Allah dan rasulnya, serta berjihad dijalannya. Taat kepada Allah dibuktikan dengan menjalankan perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Taat kepada rasul berarti bersedia menjalankan sunah-sunahnya. Kesiapan itu lalu ditambah dengan keseriusan berjihad, berjuang di jalan Allah dengan mengorbankan harta, tenaga, waktu, bahkan jiwa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s