SPI (Seputar Pacaran menurut Islam)



Oleh: Faris Wringin

Menurut para ulama katanya pacaran dilarang dalam Islam? Menururt saya di dalam Al Quran dan Sunnah tidak ada dalil yang melarang pacaran sebagaimana larangan berzina? Jika tidak ada berarti boleh kita melakukan pacaran? Bagaimana dengan pacaran Islami?

Sebelum menjelaskan masalah pacaran, perlu dijelaskan pandangan Islam mengenai perbuatan manusia. Para ulama telah membuat kaidah syara’ berkaitan tentang hukum perbuatan, yaitu:

“asal dari hukum perbuatan terikat dengan hukum syara”

Kaidah tersebut diambil berdasarkan Firman Allah SWT:

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka” (Q.S. Al Maidah: 49).

Berdasarkan kaidah tersebut maka setiap perbuatan manusia pasti memiliki hukum tersendiri berdasarkan dalil syara’ yang terdiri dari hukum wajib, sunnah, mubah, makruh, dan haram. Apabila hukum syara’ tentang suatu perbuatan tidak ditentukan secara langsung dalam dalil syara’ maka penentuan hukum perbuatan manusia berdasarkan dalil syara’ dilakukan melalui ijtihad para ulama yang telah meneliti fakta perbuatan (manathul hukmi) tersebut serta dalil syara’nya. Oleh karena itu ketiadaan dalil syara yang menjelaskan tentang suatu perbuatan bukan berarti perbuatan tersebut tidak memiliki hukum atau diperbolehkan untuk dilaksanakan, akan tetapi perbuatan tersebut perlu digali hukumnya melalui ijtihad tersebut. Hasil penggalian hukum menunjukkan hukum syara’ atas perbuatan tersebut dan manusia terikat dengan hukum perbuatan itu.

Aktivitas pacaran merupakan salah satu perbuatan manusia yang perlu digali hukumnya bedasarkan dalil syara’ yang sesuai dengan fakta pacaran tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807) pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan cinta kasih. Berpacaran adalah percintaan; berkasih-kasihan. Memacari adalah mengencani ; menjadikan dia sebagai pacar. Sementara kencan sendiri adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.

Berdasarkan perngertian tersebut maka kita bisa mengetahui bentuk aktivitas pacaran yaitu menjalin hubungan kasih sayang dengan lawan jenis di luar ikatan pernikahan sehingga akan nampak aktivitas untuk merealisasikan hubungan tersebut dalam bentuk khalwat (berdua-duaan di tempat sepi), berinteraksi (komuniksi) dengan lawan jenis dalam masalah yang khusus dan intim (bukan muamalah), bergandengan tangan, bercium-ciuman, atau yang paling parah adalah terjerumus dalam perbuatan zina.

Itulah fakta (manathul hukmi) tentang aktivitas pacaran yang telah dilakukan oleh orang yang berpacaran sehingga hukum tentang pacaran dapat diambil dari fakta-fakta tersebut.

  1. 1. Khalwat

Khalwat dalam Islam dilarang oleh Rasulullah SAW dengan larangan yang tegas berdasarkan sabdanya:

“Janganlah seorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kecuali wanita tersebu disertai mahramnya, dan janganlah wanita melakukan safar kecuali disertai mahramnya” (Mutafaqun Alaihi).

Dari Jabir Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka janganlah berkhalwat antara laki-laki dan wanita yang tidak dibarengi mahramnya dari pihak wanita karena syetan akan menjadi yang ketiga dari keduanya” (H.R Ahmad).

Hadits tersebut menunjukkan larangan yang tegas tentang khalwat berdasarkan qarinah (indikasi) bahwa larangan tersebut disandarkan pada keimanan seorang muslim. Oleh karena itu hukum berkhalwat adalah haram menurut syara’ dan bukan makruh. Larangan aktivitas berdua-duaan di tempat  sepi antara laki-laki dan perempuan tanpa disertai mahram ini bersifat umum bagi semua orang baik ada hubungan pacaran, teman tapi mesra (TTM), teman biasa, dll.

  1. Bergandengan tangan, berciuman,  berpelukan, dan zina

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk” (Q.S. Al Isra’: 32).

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsirnya bahwa dalam ayat tersebut Allah melarang hamba-hamba-Nya melakukan perzinaan, mendekati tempat-tempat zina, dan hal-hal yang merangsang untuk berzina. Oleh karena itu aktivitas bergandengan tangan, berciuman, dan berpelukan antara laki-laki dan perempuan di luar ikatan pernikahan haram karena hal tersebut masuk dalam kategori perbuatan yang mendekatkan diri pada perzinahan.

Dalam kehidupan,  aktivitas perzinaan pada umumnya  dilakukan di tempat-tempat pelacuran, hubungan perselingkuhan (WIL dan PIL), serta berawal dengan aktivitas pacaran.  Dengan demikian pacaran termasuk dalam kategori hal-hal yang mendekatkan pada perzinaan. Betapa besar dosa zina dan bahayanya sehingga mendekati perbuatan tersebut diharamkan oleh syara’. Rasulullah bersabda tentang perbuatan zina:

“Tiada sesuatu dosa sesudah syirik lebih besar di hadapan Allah daripada perbuatan seorang pria yang memasukkan mani ke dalam rahim yang tidak dihalalkan baginya” (H.R. Ibnu Abi Dunya dari Malik at Thai).

  1. Menjalin hubungan cinta kasih di luar ikatan pernikahan

Sesungguhnya Islam tidak melarang seorang muslim memiliki perasaan cinta antara lawan jenis, karena hal tersebut merupakan fitrah bagi manusia, sebagaimana Firman Allah SWT:

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik” (Q.S. Ali Imran: 14).

Islam hanya mengatur hubungan antara lawan jenis agar tercipta hubungan suci dan mulia saesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah dengan tujuan untuk kebaikan manusia. Islam memandang bahwa hubungan antara laki-laki dan perempuan adalah untuk melanjutkan keturunan, bukan sekedar pandangan seksual semata. Oleh karena itu keberlangsungan status keturunan yang mulia dan jelas nasabnya sangat diperhatikan serta perlu dilindungi keberadaannya. Berdasarkan pandangan tersebut maka Islam hanya membolehkan hubungan laki-laki dan perempuan secara intim (menjalin cinta, kasih sayang, berjima’, dll) dilakukan dalam sebuah lembaga pernikahan dan pemilikan hamba sahaya. Selain itu Islam mengharamkannya.  Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa” (Q.S Al Mukminun: 5-6).

Rasulullah telah memerintahkan bagi seorang pemuda yang telah memiliki rasa cinta kepada seorang pemudi dan dia telah memiliki kemampuan untuk menikah agar segera menikah sebagaimana Sabda beliau:

“ Wahai pemuda barangsiapa di antara kamu telah mampu menikah maka hendaknya kalian menikah, karena ia dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Barangsiapa belum mampu hendaknya berpuassa, sebab ia dapat mengendalikanmu” (Mutafaqun Alaihi).

Akan tetapi jika seseorang belum mampu untuk menikah maka beliau memerintahkan agar berpuasa. Perintah puasa merupakan solusi (problem solving) yang diperintahkan Islam secara sah kepada seseorang yang memiliki rasa cinta tetapi belum mampu menikah. Solusi tersebut bertujuan untuk mengendalikan rasa cinta yang telah bergelora di dalam dada, sedangkan solusi yang bertentangan dengan tujuan dari syara’ dalam memerintah aktivitas tersebut termasuk solusi yang batil.

Islam tidak pernah memberikan solusi bagi orang yang hendak menikah melainkan dengan tiga hal, yaitu: menikah apabila mampu, pemilikan budak apabila mempunyai budak, dan berpuasa apabila tidak mampu. Oleh karena itu selain ke tiga hal di atas termasuk perkara yang batil dan tertolak.

Dengan demikian berdasarkan penjelasan di atas pacaran diharamkan karena :

1. Menjalin hubungan cinta kasih dengan lawan jenis di luar ketentuan yang diperintahkan  syara’ (lembaga pernikahan dan pemilikan hamba sahaya).

2. Pacaran merupakan solusi dari syari’at kufur bagi orang yang belum mampu menikah dan bertentangan dengan solusi dalam syariat Islam yaitu puasa. Pertentangan tersebut dapat dilihat dari tujuan disyariatkan puasa, yaitu untuk mengendalikan rasa cinta yang bergelora, sedangkan pacaran justru dilakukan untuk menjalin cinta dalam rangka untuk memenuhi dan memuaskan rasa cinta tersebut.

Dari penjelasan di atas segala bentuk fakta aktivitas pacaran baik dari aktivitas yang hanya sekedar memadu cinta dan berinteraksi  antara lawan jenis, khalwat, hingga perbuatan yang mendekati zina, serta sebagai problem solving terhadap masalah kehidupan diharamkan secara tegas dan jelas  dari berbagai segi sehingga dapat disimpulkan bahwa pacaran hukumnya adalah haram berdasarkan dalil syara’.  Begitupun sebutan-sebutan yang melekat dengan pacaran yang bertujuan untuk menghalalkan pacaran tersebut termasuk batil sebagaimana orang menyebut dengan istilah “Pacaran Islami” karena fakta dari istilah tersebut tidak akan terlepas dari salah satu fakta amal di atas. Wallahu a’lam Bishowwab.

(Jember, 27 April 2010).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s