Prinsip Diagnosis Oral Medicine


PRINSIP-PRINSIP DIAGNOSIS

  1. Riwayat Klinis

Keluhan

Gaya pengambilan riwayat penyakit tergantung pada pribadi masing – masing klinisi, tetapi perlu diperhatikan bahwa dari awal pemeriksaan sudah harus ditentukan apakah seorang penderita mempunyai lebih dari 1 keluhan. Bila ada lebih dari 1 keluhan, masalah utama harus dilakukan terlebih dahulu, diikuti dengan keluhan lainnya berurutan ke bawah sesuai dengan tingkat keseriuusannya. Ada beberapa pertanyaan dasar yang harus diajukan untuk memastikan ciri – ciri keluhan :

  1. Lokasi
  2. Kapan pertama kali diketahui
  3. Kapan kehadirannya
  4. Faktor – fakor yang mempercepat
  5. Faktor – faktor yang memperingan

(Lewis:7)

  • Rasa sakit

Dalam kasus rasa sakit yang perlu diperhatikan adalah sifat, kehebatan, serta kapan terasanya. Pasien harus ditanya apakah rasa sakit timbul seriap hari, dan bila demikian, bagaimana rasa sakit berubah dari waktu ke waktu dari bangun di pagi hari sampai menjelang tidur dimalam hari.(Lewis:9)

  • Pembengkakan

Keberadaan dan keparahan pembengakakn yang terus menerus dapat ditentukan oleh klinisi pada saat pemeriksaan. Dalam sejumlah kondisi, pembengkakan mungkin episodik dan tidak ada pada saat pada pasien datang. Dalam keadaan demikian, pasien harus ditanya untuk menggambarkan basarnya pembengkakan misalnya apakah ukurannya sebesr kacang polong, jagung atau biji kenari, waktu terjadinya serta kecepatan pertumbuhannya. Kesadaran pasien akan pembengakakan itu harus dicatat. (Lewis:9)

  • Ulserasi
    bila apsien mengeluh tentang adanya ulserasi, apakah ulserasai baru terjadi untuk pertama kalinya atau apakah sebelumnya udah pernah timbul. Dalam kasus ulserasi yang berulang, informasi yang harus didapatkan dalah mengenai lokasi, jumlah, frekuensi, serta lamanya (durasi luka). (Lewis:9-10)
  1. Riwayat Medis

Dua alasan medis dalam pengambilan riwayat penyakit yang memadai adalah, pertama, kesadaran akan adanya penyakit sistemik dan kedua adanya persiapan untuk segala kemungkinan keadaan darurat medis yang dapat timbul. Selain faktor – faktor diatas, pengambilan riwayat medis untuk alasan medikolegal sekarang diwajibkan.

(Lewis:12)

  1. Riwayat Sosial

Dalam konteks riwayat sosial yang relevan pasien harus ditanya mengenai tatus perkawinan, pekerjaan sekarang dan dulu, kebiasaan merokok, jumlah alkhohol yang diminum, penyalahgunaan obat – obatan perwatan sebelumnya yang berhubungan dengan kegelisahan dan depresi. (Lewis:12)

  1. Riwayat dental

Riwayat dental harus mencakup perincian pola pertumbuhan gigi, tipe dan umur gigi palsu dan serta kapan dipakainya. Rincian tiap setiap ortodonti lepasan atau cekat harus dicatat. Hal ini sangat membantu dalam memastikan apakah keluhan itu ada hubungannya dengan gigi sebelumnya. Bagi pasien yang menggunakan protesa, pertanyaan mengenai kebersihan protesa harus diajukan, termasuk rincian dari cairan yang digunakan untuk membersihkan dan merendam protesa pada malam hari. Perlu juga diketahui apakah pasieen memeriksakan diri secara teratur atau tidakkarena hal ini dapat memberikan persepektif tentang arti kesehatan mulut bagi dirinya.

(Lewis:12-13)

  1. Pemeriksaan Klinis

Dokter gigi mempunyai kesempatan yang baik untuk mengamati pasien pada saat pencatatan riwayat klinis. Dengan cara ini, kelainan – kelainan dapat dilihat dengan jelas, seperti misalnya pelumpuhan saraf kranial, pembengkakan wajah atau ruam – ruam kulit. Mengamati frekuensi kedipan yang melebihi normal juga sangat berguna bagi dokter, karena hal ini dapat mengindikasikan adanya serophthalmia. Apabila bila pasien jelas – jelas ketakutan atau menunjukkan tanda – tanda segera akan menangis, ini mungkin menunjukkan adanya kekacauan psikologis. Tak ada metode pemeriksaan klinis tertentu yang bisa dianggap lebih benar selama jaringan diperiksa secara cermat. Pemeriksaan dapat dibagi atas ekstraoral dan intraoral.

  • Pemeriksaan Ekstraoral

Mendahulukan pemeriksaan ekstraoral merupakan pemeriksaan yang logis dan hal ini dapat dimulai dengan palpasi pada leher untuk pemeriksaan limpadenopati. Tata caranya harus dijelaskan pada pasien dan dilakukan dari belakang. Semua nodus submental, submandibular, aurikular posterior dan servikal harus dipalpasi secara bergantian. Vertebra servikalis harus dipalpasi dan gerak  leher harus diperiksa dalam gerakan lateral dan rotasi. Kelenjar saliva parotis harus dipalpasi dan segala pembesaran atau pelunakan harus diperhatikan. Dalam pembesran parotis yang sejati ada defleksi ke arah luar dari bagian bawah lobus telingan bagian bawah lobus telinga; pendeteksian yang terbaik adalah dengan melihat wajah. Condil mandibula harus dipalpasi dan pasien diminta untuk mengerak – gerakkan rahang dalam jangkauan penuh, termasuk membuka mulut secara maksimal dan melakukan gerakan – gerakan lateral. Setiap pembatasan gerak dan nyeri harus dicatat. Otot – otot lateralis dan masseter harus dipalpasi dan dengan rahang dalam keadaan tertutub dan dikeraskan oleh pasien, untuk menentukan bagian paling tebal serta ada atau tidaknya tersa nyeri. Melakukan tekanan pada daerah – daerah yang dikeluhkan sakit oleh penderita akan sangat membantu, seperti akan misalnya pada sinus maksilaris atau pada arteri – arteri temporal. (Lewis:13)

  • Pemeriksaan Intraoral

Klinisi harus menggunakan sarung tangan operasi untuk melakukan pemeriksaan intraoral. Bila pasien menggunakan gigi palsu maka gigi palsu ini harus dilepas dan diperiksa apakah ada bagian yang rusak atau adanya debris. Selanjutnya mintalah pasien untuk memasangkannya kembali ke dalam mulut. Guna menilai hubungannya dengan daerah abnomalitas mukosa.

Pemeriksaan intraoral yang sistemik harus dilakukan untuk memastikan bahwa tidak ada daerah dimulut yang terlewati. Bagian dalam bibir, palatum keras dan lunak, mukosa bukal, dasar mulut, dan tepi dasar serta lateral dari lidah juga diperiksa. Tepi lateral lidah harus diperiksa dengan jalan ujung lidah dipegang dengan menggunakan sebuah kasa. Jumlah gigi yang ada harus dicatat seiring dengan evaluasi singkat mengenai distribusi karies atau restorasi dan adanya kelainan periodontal termasuk goyangnya gigi – gigi. Selama pemeriksaan, jumlah dan kekentalan saliva dapat ditentukan. Cara penilaian yang sederhana adalah kaca mulut harus mudah diangkat dari jaringan, ketika ditempatkan pada mukosa bukal. Bila ada xerostomia, kaca akan lengket pada mukosa. Orifice saluran kelnjar parotis dan submandibularis hrus diidentifikasi. Pada individu yang sehat, palpasi eksternal yang lembut pada kelenjar saliva utama (mayor) seharusnya ,menambah aliran saliva jetrnih dari saluran kelnjar liur yang bersangkutan. Palpasi bimanual pada kelnjar saliva submandibularis harus dilakukan untuk menetukan ada atau tidaknya pembesaran atau nyeri. (Lewis:13-14)

  1. Rujukan pada Seorang Specialis

Bila pasien perlu dirujuk pada spesialis maka perujukan dilakukan dengan menggunakan dengan surat, walaupun untuk kasus darurat, perjanjian waktu dapat dilakukan melalui telepon. Komunikasi verbal secara langsung antara dokter umum dan specialis dapat dilakukan untuk meminta pendapat sehubungan dengan interaksi obat dalam hubungannya dengan penyakit mulut atau untuk memberi informasi tambahan yang bersifat rahasia mengenai pasien yang tidak tercantum pada surat rujukan.(Lewis:18-20)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s