Fenomena Ramalan Astrologis (Bahaya dan Solusi Pemberantasannya dalam Islam)


Setiap di awal tahun fenomena ramalan menunjukkan tren peningkatan. Media-media yang mengikuti keinginan pasar, seperti sebagian besar TV, tidak ketinggalan menyuguhkan acara tentang ‘paranormal’ (dukun) yang memberi ramalan berdasarkan ilmu astrologi tentang kehidupan seorang artis atau public figure dan kejadian-kejadian penting yang diramalkan akan terjadi di tahun 2013. Sebagaian kaum muslimin pun secara sadar dan tidak sadar menikmati tontonan tersebut.

Sebagian besar kaum muslimin mungkin telah pernah bahkan sering mendengar kata-kata sihir, paranormal, dukun, ataupun ramalan astrologi. Di berbagai media, baik elektronik maupun cetak, ada yang rutin menampilkan ramalan astrologis (zodiak) dalam berbagai periode mulai mingguan, bulanan, hingga tahunan. Ada pula fenomena layanan SMS premium yang memberikan informasi ramalan tentang berbagai macam perkara manusia mulai dari jodoh, peruntungan, ekonomi, kesehatan dan lain-lain. Dari fenomena-fenomena tersebut, banyak di antara kaum muslimin yang tidak tahu dan tidak mau tahu mengenai bagaimana Islam memandang hal tersebut. Apakah sama astrologi dengan astronomi? Bagaimana Islam memandang hal tersebut?

Perbedaan Astrologi dan Astronomi
Menurut kamus Merriam-Webster, Astrologi (Astrology): “The divination of the supposed influences of the stars and planets on human affairs and terrestrial events by their positions and aspects.” Dari definisi tersebut jelas bahwa para pakar astrologi percaya bahwa posisi benda-benda langit (planet dan bintang) berpengaruh pada kehidupan manusia dan peristiwa masa depan yang akan terjadi dapat diramalkan berdasarkan posisi benda langit tersebut.

Astrologi merupakan ramalan yang dibangun melalui interpretasi pengaruh bintang-bintang dan planet-planet terhadap urusan-urusan di bumi dan nasib atau takdir manusia. Pada zaman kuno astrologi tidak dapat dipisahkan dengan astronomi. Astrologi mulai dikenal di Mesopotamia (millennium ketiga SM) dan menyebar ke India, tetapi kemudian berkembang di peradaban Yunani. Astrologi memasuki kebudayaan Islam sebagai bagian dari tradisi Yunani dan dikembalikan ke budaya Eropa pada zaman pertengahan. Menurut tradisi Yunani, surga dibagi berdasarkan menurut 12 rasi bintang zodiak, dan cahaya dan posisi bintang yang pada berbagai interval tersebut mempengaruhi kejadian dan urusan manusia. Astrologi juga merupakan bagian penting dalam peradaban Cina kuno. Horoskop pada setiap bayi yang lahir menentukan seluruh titik waktu kehidupan mereka (junctures of life). Pada pada zaman modern sekarang, astrologi masih dipercaya secara luas untuk mempengaruhi kepribadian.

Sedangkan Astronomi (Astronomy) didefinisikan dalam kamus Merriam-Webster: “The study of objects and matter outside the earth’s atmosphere and of their physical and chemical properties.”Jadi, Astronomi merupakan ilmu yang mempelajari tentang obyek dan benda di luar atmosfer bumi beserta sifat secara fisik dan kimianya. Ilmu Astronomi ini mempelajari alam semesta dan benda-benda langit didasarkan pada metode serta perhitungan secara ilmiah. Perhitungan ini berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran dengan ketelitian yang tinggi serta menggunakan alat-alat observasi yang canggih seperti teleskop, satelit dan pengiriman pesawat angkasa serta pengolahan data menggunakan komputer sehingga pergerakan benda-benda langit bisa diperkirakan secara pasti baik untuk kondisi masa yang lalu maupun kondisi masa yang akan datang. Ilmu ini juga mempelajari hubungan dengan asal mula, evolusi, komposisi, jarak, dan pergerakan dari seluruh bagian atau bagian benda di dalam alam semesta.

Oleh karena itu dari definisi di atas astrologi dan astronomi merupakan dua hal yang berbeda yang tidak bisa disamakan. Astrologi merupakan ilmu yang dipengaruhi peradaban (hadharah) tertentu yaitu hadharah kufur karena lahir dari luar Islam. Sedangkan astronomi merupakan ilmu sains murni yang tidak dipengaruhi oleh hadharah tertentu.

Islam para ulama sepakat akan legalitas ilmu yang berguna kepentingan penentuan waktu-waktu shalat serta penentuan arah kiblat (ilmu falak). Bahkan mayoritas Ulama menyatakan kewajibannya sebagai kewajiban kolektif (fardhu kifaayah).

Ramalan sebagai Upaya Pembodohan dan Ladang Bisnis
Di China, Liu Qiyuan, petani di Desa Qiantun, Provinsi Hebei, Beijing Selatan, telah membuat kapsul-kapsul penyelamat untuk mengahadapi kiamat. Dia menyebut kapsul itu sebagai “Bahtera Nuh”. Kapsul ini dihargai US$ 50.000 per buah. Konon, rancangannya tersebut selain dipasarkan ke masyarakat, juga ditawarkan ke AL China. Di Australia, Suatu kelompok di Australia menarik bayaran sebesar 5.000 dolar Australia atau sekitar Rp50 juta untuk mereka yang mau berlindung ketika hari kiamat datang. Bunker ini dibangun di utara perbukitan New South Wales.

Selain di China dan Australia yang memanfaatkan isu ramalan menjadi ladang bisnis, Dua tempat yang bisa dijadikan perlindungan (menurut ramalan suku Maya), yaitu Desa Bugarach di Perancis dan Desa Sirince di Turki juga memanfaatkannya. Meski berita bahwa dua desa itu bisa jadi perlindungan saat kiamat itu palsu, tetapi tetap saja banyak orang yang berdatangan, setidaknya untuk wisata. Jumlah wisatawan meningkat drastis sehingga harga hotel yang semula sekitar Rp 540.000 meningkat menjadi belasan juta rupiah. Bahkan untuk pertama kalinya desa Bugarach pertama kali kedatangan 200 wartawan dari seluruh dunia (kompasiana.com).

Wajar jika seorang non muslim yang percaya akan ramalan hari Kiamat, bagi mereka yang berpikir sekuler kapitalistik akan memanfaatkan segala momen untuk menarik keuntungan, termasuk isu kiamat ini. Oleh karena itu sebagai seorang yang beriman, jangan sampai menjadi termakan upaya-upaya pembodohan dari mereka yang tak mengenal Iman dan Islam. Kembalikan semuanya kepada Islam dalam menyikapi segala persoalan.

Bahaya Ramalan dalam Islam
Hukum orang yang mendatangi tukang ramal atau dukun, jika mempercayai terhadap apa yang dikatakannya adalah kafir, keluar dari agama Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :
“Barang siapa mendatangi dukun dan tukang ramal, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh dia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad”. (HR Ahmad: 2/ 429, dalam shahih jami’ hadits, no : 5939)

Jika orang yang datang tersebut tidak mempercayai bahwa mereka mengetahui hal-hal ghaib, tetapi misalnya pergi untuk sekedar ingin tahu, coba-coba atau sejenisnya, maka ia tidak tergolong orang kafir, tetapi shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda :“Barang siapa mendatangi tukang ramal, lalu ia menanyakan padanya tentang sesuatu, maka tidak di terima shalatnya selama empat puluh malam” (Shahih Muslim : 4 / 1751). Dalam hal ini, orang tersebut (yang mendatangi peramal) harus dengan tetap mendirikan shalat (wajib) dan bertaubat atasnya.

Sesungguhnya pengetahuan tentang yang ghaib (ilmu ghaib), telah tetap dalam Al Qur’an, baik yang berupa dzati dan i’tho’i (pemberian), dan beriman kepadanya adalah fardlu hukumnya. Ilmu yang dzati khusus milik Allah ta’ala dan yang i’tho’i tetap pada para Nabi dan wali. Allah SWT berfirman: Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah”, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. (QS. An-Naml [27] : 65). Sedangkan para peramal dkk melalui astrologi atau bantuan jin-jin mengaku mengetahui ilmu ghaib seperti masa depan manusia dalam segala aspek baik ekonomi, kesehatan, jodoh, maut, dan sebagainya. Hal ini bertentangan dan dipertegas lagi,Allah SWT berfirman: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS. Al-An’am [6] : 59).

Hal ini ditegaskan lagi dalam hadits nabi SAW: “Kunci perkara ghaib itu ada lima, tidak ada seorangpun yang mengetahuinya melainkan Allah Ta’ala: ‘Tidak ada seorangpun yang mengetahui apa yang akan terjadi esok selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun mengetahui apa yang ada di dalam kandungan selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat selain Allah Ta’ala, dan tidak ada seorangpun yang mengetahui di bumi mana dia akan mati selain Allah Ta’ala, dan tidak seorangpun yang mengetahui kapan hujan akan turun selain Allah Ta’ala”.(Hadis Riwayat Imam Bukhari dan Imam Ahmad dari Ibnu Umar).

Jika suatu peramalan didukung kebenaran fakta maka jiwa akan terpedaya oleh pengaruhnya dalam ketidaknyataan, hal ini sebagaimana ditegaskan dalam sebuah Hadits: Aisyah r.a. berkata, “Rasulullah saw ditanya tentang para kahin, lalu beliau menjawab, ‘Mereka tidak bernilai apa-apa!’ Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka terkadang memberitakan sesuatu dengan benar.’ Beliau bersabda, ‘Kalimat yang benar itu berasal dari pencurian jin, lalu jin menyuarakannya di telinga walinya (dukun) seperti suara ayam betina yang berkokok (sehingga menggugah teman-temannya), lalu para setan (yang mendengarnya) mencampurinya dengan seratus kedustaan” (HR Bukhari dan Muslim).

Sebenarnya MUI sudah memberikan fatwa tentang perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘irafah) pada ahun 2005. Fatwa MUI itu tercantum dalam keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: 2/MUNAS VII/MUI/6/2005 tentang perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘irafah). MUI memutuskan:
1. Segala bentuk praktik perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘iraafah) hukumnya Haram.
2. Mempublikasikan praktik perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘iraafah) dalam bentuk apapun hukumnya Haram.
3. Memanfaatkan, menggunakan dan/atau mempercayai segala praktek perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘iraafah) hukumnya haram.

Namun faktanya sekarang, praktik-praktik perdukunan dan peramalan masih tumbuh subur di negeri ini. Setidaknya ada beberapa faktor yang memengaruhi hal ini terjadi:
1. Negara tidak mengadopsi fatwa MUI tersebut,
2. Pemahaman masyarakat yang masih awam perhadap masalah ini, dan
3. Pihak kapitalis yang memanfaatkan praktik ramalan sebagai ladang bisnis

Beriman kepada Takdir Allah
Islam mengajarkan untuk berserah diri pada ketentuan nasib (takdir) sebagai bagian dari iman kepada Qadha dan Qadar Allah. Sikap ini sangat penting untuk membebaskan diri dari segala bentuk peramalan. Sangatlah manusiawi jika manusia mempunyai harapan, impian atau cita-cita di masa depan, namun hal tersebut janganlah keingintahuan yang tinggi kan masa depan menjadikan dia buta sehingga melangar apa yang telah Allah atur. Islam telah mengatur segalanya, Allah mengharamkan segala bentuk dengan pemanfaatan, penggunaan dan/atau mempercayai segala praktek perdukunan (kahanah) dan peramalan (‘iraafah).

Jika seorang mukmin mempunyai harapan, impian atau cita-cita, maka bulatkanlah tekad (azam) lalu bertawakallah kepada Allah, seraya dibarengi dengan ikhtiar (usaha) semaksimal mungkin. Perkara hasil, serahkanlah semuanya kepada Allah karena hasil pada dasarnya merupakan pemberian dari Allah. Allah mempunyai hak penuh untuk mengabulkan sesuai permohonan hamba-Nya atau tidak. Yakinlah apa yang telah Allah rencanakan itu adalah baik, jangan gunakan kacamata manusia. Allah SWT berfirman:
“… apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran [3] : 159).
Berdoalah kepada Allah hal-hal yang baik untuk masa yang akan datang, karena doa adalah senjata orang yang beriman. Jika hasil sudah sesuai harapan (diberi nikmat) maka bersyukurlah, namun jika belum sesuai harapan (ditimpa musibah) maka bersabarlah karena segala urusan seorang beriman adalah baik, sebagaimana Nabi bersabda: “Aku takjub dengan perihal orang yang beriman. Semuanya ada kebaikan. Tidak ada sesuatu kebaikan pun kecuali ianya untuk orang beriman. Apabila diberikan sesuatu nikmat, dia bersyukur. Maka itu baik baginya. Apabila diuji dengan suatu ujian, dia akan bersabar. Maka itu juga baik baginya” (Hadis Riwayat Imam Muslim).

Khatimah
Islam tidak mengenal segala macam praktek peramalan astrologis. Hal itu merupakan salah satu jenis kemungkaran yang harus dihilangkan sebagai bentuk amar maruf nahi munkar. Dalam Islam, negara wajib menjaga aqidah warga negaranya dari berbagai macam bentuk kesyikiran dengan cara menghilangkan segala macam praktik perdukunan dan peramalan melalui kebijakan-kebijakan yang diformalkan dalam Undang -Undang. Sebagai bagian dari masyarakat, diwajiban pula untuk saling menjaga dan mengontrol lingkungan sekitar agar terhindar dari praktik perdukunan dan ramalan. Sebagai individu muslim, diwajibkan untuk menjaga keluarga dengan memberikan pendidikan, bimbingan agar diri pribadi dan keluarga terhindar dari bahaya perdukunan dan ramalan. Semoga Allah senantiasa menjaga kita semua dari bahaya ramalan dan perdukunan. Aamiin.

Wallahu A’lam bisshowab.

Diwan Shoutul Hikmah, 1 Januari 2013

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s